MALANG (14/2) Mengetuk pintu langit dan memperkuat tali spiritual, rombongan guru serta karyawan melaksanakan kegiatan Ziarah dan Riyadah ke maqam para Aulia serta tokoh besar penyebar Islam di Jawa Timur. Kegiatan ini diikuti dengan penuh antusias sebagai sarana refleksi diri dan mencari keberkahan (tabarruk) dalam menjalankan tugas mendidik generasi bangsa.
Awalan yang Berkah: Menghormati Sang Pendiri
Rangkaian perjalanan spiritual ini diawali dengan penuh takzim di Bululawang, Malang. Rombongan melakukan ziarah ke makam KH. M. Badruddin Anwar, sosok ulama kharismatik sekaligus pendiri Pondok Pesantren Wisata An-Nur 2.
Di lokasi ini, para peserta melaksanakan riyadah berupa zikir bersama. Kehadiran di makam Kyai Badruddin menjadi pengingat bagi para guru akan kegigihan beliau dalam membangun pendidikan Islam yang modern namun tetap berpegang teguh pada nilai-nilai salaf.
Menelusuri Jejak Cahaya Ulama Kediri
Destinasi pertama dimulai dari Ploso, Kediri. Rombongan mengunjungi makam KH. Ahmad Djazuli Utsman, pendiri Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Sosok beliau dikenal sebagai pilar keilmuan fiqh dan pengabdian tanpa batas.
Tak jauh dari sana, ziarah dilanjutkan ke makam putra beliau, KH. Hamim Tohari Djazuli atau yang akrab disapa Gus Miek. Suasana riyadah di makam pencetus majelis zikir Dzikrul Ghofilin ini berlangsung sangat khusyuk, mengingatkan para peserta akan pentingnya kedekatan hati kepada Sang Pencipta melalui zikir.
Menuju Pusat Peradaban Islam Ponorogo dan Madiun
Perjalanan spiritual berlanjut menuju Tegalsari, Ponorogo, untuk berziarah ke makam Kiai Ageng Hasan Besari. Beliau adalah ulama besar yang menjadikan Tegalsari sebagai pusat intelektual Islam di masa lalu, tempat di mana banyak tokoh bangsa menimba ilmu.
Rangkaian ziarah ditutup dengan mengunjungi makam Ki Ageng Anom Besari di Kuncen, Madiun. Kehadiran rombongan di makam leluhur para ulama besar di tanah Jawa ini menjadi momen refleksi tentang pentingnya menjaga sanad keilmuan dan akhlakul karimah.
Pesan dan Harapan
Sepanjang perjalanan, para guru dan karyawan tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi juga melaksanakan Riyadah berupa pembacaan tahlil, Yasiin dan doa bersama.
“Kegiatan ini bukan sekadar wisata religi, melainkan bentuk charging spiritual. Kami berharap semangat perjuangan para waliyullah ini dapat tertular kepada kami dalam mendidik siswa-siswi di sekolah,” ujar Kyai Qosim guru IPA SMP AN NUR.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan kerja sama dan kekeluargaan antar guru serta karyawan semakin erat, membawa energi positif yang baru saat kembali beraktivitas di lingkungan sekolah.
