Malang (15/7) – Ratusan siswa SMP Annur program kelas reguler tampak berkumpul di lapangan sekolah dengan wajah tegang sekaligus penasaran. Pagi ini, riuh rendah suara sirine mobil pemadam kebakaran (Damkar) bukan menandakan adanya musibah, melainkan mulainya kegiatan sosialisasi dan simulasi penanggulangan kebakaran yang digelar oleh petugas Pemadam Kebakaran setempat.
Kegiatan yang berlangsung pada Rabu (14/7) ini bertujuan untuk memberikan edukasi dini kepada para siswa mengenai bahaya kebakaran serta cara penanganan pertamanya.

Kenalkan Teori dan Segitiga Api
Sebelum masuk ke simulasi praktik, para petugas Damkar memberikan pembekalan teori. Siswa diajak memahami materi dasar tentang “Segitiga Api”—yaitu unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya api (panas, bahan bakar, dan oksigen)—serta bagaimana cara memutus rantai unsur tersebut agar api padam.
“Edukasi usia remaja seperti ini sangat krusial. Kami ingin para siswa tidak panik saat melihat api, melainkan tahu apa yang harus dilakukan pertama kali,” ujar Komandan Regu Damkar di lokasi.
Aksi Menegangkan di Lapangan: Praktik Padamkan Api
Keseruan memuncak saat para siswa diarahkan menuju lapangan terbuka untuk melakukan praktik langsung. Petugas Damkar menyiapkan dua metode pemadaman:
- Metode Tradisional (Bilas Basah): Siswa diajarkan cara menjinakkan api pada tabung gas yang bocor menggunakan karung goni yang telah dibasahi.
- Metode Modern (APAR): Petugas memberikan demonstrasi tata cara menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) secara benar dengan rumus PASS (Pull, Aim, Squeeze, Sweep).
Tidak hanya menonton, beberapa perwakilan siswa dan guru bahkan diberikan kesempatan langsung memegang nozzle (selang semprot) mobil Damkar untuk memadamkan kobaran api besar yang sudah disiapkan petugas dalam drum simulasi.

Tanggapan Pihak Sekolah
Direktur kelas program reguler Bapak Agus Susilo menyampaikan apresiasi yang mendalam atas kehadiran tim Damkar. Menurutnya, ilmu keselamatan seperti ini tidak ada di dalam buku pelajaran sehari-hari namun sangat penting untuk bertahan hidup (survival skill).
“Anak-anak sangat antusias. Kegiatan ini memberikan pengalaman berharga agar mereka lebih peduli terhadap keselamatan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekolah,” pungkasnya.
Acara edukasi ini ditutup dengan sesi foto bersama dan tradisi “basah-basahan” ceria, di mana petugas Damkar menyemprotkan air ke udara yang langsung disambut sorak gembira oleh seluruh siswa SMP Annur.
