MALANG – Yayasan Pondok Pesantren Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo, Bululawang, Malang, menggelar Workshop Peningkatan Kompetensi Guru dan Karyawan pada Rabu, 1 Juli 2026. Bertempat di Aula Yamatiin An-Nur 2 Al-Murtadlo, kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Yayasan, jajaran kepala sekolah dari unit TK, MI, SMP, hingga SMA An-Nur, serta ratusan guru dan karyawan di lingkungan pesantren, dengan peserta 288.
Fokus pada Pengembangan Passion Murid
Dalam sambutannya, Ketua Pelaksana Kegiatan, Bapak H. Nur Kholis, M.Pd., menyampaikan harapan besar agar agenda ini tidak sekadar menjadi formalitas, melainkan motor penggerak perubahan positif bagi siswa.
“Semoga dengan adanya workshop ini dapat membawa dampak positif langsung ke siswa, serta mampu meningkatkan kompetensi guru dalam mengembangkan kualitas SDM sekaligus melejitkan passion atau bakat minat para murid,” ujar H. Nur Kholis.
Untuk mencapai target tersebut, yayasan menghadirkan dua narasumber ahli di bidangnya:
- Dr. KH. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si. (Dosen FISIP UB sekaligus Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya).
- Prof. Dr. Dra. Hj. Umi Dayati, M.Pd. (Dosen & Korprodi PLS Universitas Negeri Malang, sekaligus Motivator ASEAN).
Sorotan Sambutan Ketua Yayasan: Filosofi Metode dan Jiwa Seorang Guru
Ketua Yayasan PP. Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo, KH. Fathul Bari, memberikan wejangan mendalam saat membuka acara. Beliau mengutip slogan populer dalam dunia pendidikan Islam terkait pentingnya metodologi pengajaran.
“Al-thariqatu ahammu minal maddah – Metode itu lebih penting dari pada materi. Sebaik apa pun materi kuliah atau pelajaran, jika disampaikan tanpa metode yang baik, maka hasilnya kurang optimal,” tegas KH. Fathul Bari.
Beliau menambahkan bahwa perubahan kurikulum yang dinamis saat ini merupakan upaya pemerintah untuk terus menyelaraskan metode dan materi agar pendidikan semakin bermutu.
Belajar dari Metode Dakwah Nabi Muhammad SAW
KH. Fathul Bari mengajak para guru meneladani Rasulullah SAW yang menggunakan berbagai variasi metode mengajar, seperti metode tanya jawab hingga metode pengulangan (repetition). Beliau mengingatkan para pendidik untuk menjaga keikhlasan.
“Guru jangan sampai merasa capek, dan jangan pula menempatkan dirinya seperti raja yang enggan dikritik atau didekati,” pesan beliau.
Beliau juga mengulas metode visual yang dipraktikkan Nabi SAW, seperti saat menjelaskan konsep ajal menggunakan tongkat dengan membuat garis di tanah. Menurutnya, metode visual jauh lebih efektif karena mengaktifkan dua indra sekaligus: telinga (pendengaran) dan mata (penglihatan).
Perumpamaan Murid Seperti Tanah yang Tersiram Air Hujan
Lebih lanjut, Ketua Yayasan memberikan analogi menarik mengenai keberagaman reaksi murid dalam menerima ilmu:
- Tanah Subur: Menyerap air dan menghasilkan tanaman yang rimbun (murid yang cerdas dan langsung mengamalkan ilmu).
- Tanah Kurang Subur: Hanya menyerap air tanpa bisa menumbuhkan tanaman (murid yang paham untuk dirinya sendiri).
- Tanah Cadas/Batu: Tidak menyerap air, namun menampungnya menjadi danau atau lautan (ilmunya bermanfaat bagi orang lain walau ia sendiri memiliki keterbatasan).
Di akhir pidatonya, KH. Fathul Bari menegaskan sebuah hierarki penting: “Metode memang lebih baik dari materi, tetapi jiwa dan kompetensi seorang guru jauh lebih penting daripada metode itu sendiri.”
Melalui momentum workshop ini, pihak yayasan berharap seluruh santri dan murid di lingkungan PP. Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo ke depannya bisa mendapatkan kualitas pendidikan yang jauh lebih baik, adaptif, dan berkarakter.
