Penyakit FIR’AUNISME

ADALAH wajar kalau secara umum tiap orang merasa pendapatnyalah yang benar, lebih benar atau paling benar. Hal-hal demikian karena tiap orang punya ego dan superego. Oleh karena itu sering terjadi perdebatan-perdebatan yang sengit yang berakhir dengan bermusuhan. Hal ini karena ada yang keliru di dalam mengelola rasa benar sendiri.

Dalam syar’i sifat ini mirip dengan sifat ujub. Orang yang terkena penyakit ujub akan meman-dang remeh dosa-dosa yang dilakukannya dan mengang-gapnya bagai angin lalu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan kepada kita dalam sebuah hadits:

“Orang yang jahat akan melihat dosa-dosanya seperti lalat yang hinggap di hidungnya, dengan santai dapat diusirnya hanya dengan mengibaskan tangan. Adapun seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan duduk di bawah kaki gunung yang siap menimpanya.” (HR. Al-Bukhari)

Bisyr Al-Hafi mendefenisikan ujub sebagai berikut: “Yaitu menganggap hanya amalanmu saja yang banyak dan memandang remeh amalan orang lain.”

Barangkali gejala paling dominan yang tampak pada orang yang terkena penyakit ujub adalah sikap suka melanggar hak dan menyepelekan orang lain. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah meringkas defenisi ujub sebagai berikut: “Yaitu perasaan takjub terhadap diri sendiri hingga seolah-olah dirinyalah yang paling utama daripada yang lain. Padahal boleh jadi ia tidak dapat beramal sebagus amal saudaranya itu dan boleh jadi saudaranya itu lebih wara’ dari perkara haram dan lebih suci jiwanya ketimbang dirinya!”

Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata: “Iblis jika ia dapat melumpuhkan bani Adam dengan salah satu dari tiga perkara ini: ujub terhadap diri sendiri, menganggap amalnya sudah banyak dan lupa terhadap dosa-dosanya. Dia berkata: “Saya tidak akan mencari cara lain.” Semua perkara di atas adalah sumber kebinasaan. Berapa banyak lentera yang padam karena tiupan angin? Berapa banyak ibadah yang rusak karena penyakit ujub? Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan bahwa seorang lelaki berkata: “Allah tidak akan mengampuni si Fulan! Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun berkata:

“Siapakah yang lancang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni Fulan?! Sungguh Aku telah mengampuninya dan menghapus amalan-mu!” (HR. Muslim)

Amal shalih itu ibarat sinar dan cahaya yang terka-dang padam bila dihembus angin ujub!

Hampir semua orang disadari atau tak disadari tak mau menghargai pendapat orang lain. Tanpa mampu mengukur sendiri apakah pendapatnya lebih benar atau tidak. Itulah sebabnya maka sering muncul debat kusir yang tak ada manfaatnya.

Di dalam Surat An Nahl ayat 125 disebutkan bahwa salah satu syarat berbeda pendapat atau berdebat adalah, kedua belah pihak harus orang berilmu. Berilmu ini dalam arti keduanya harus menguasai ilmu yang sama. Misalnya, Si A adalah sarjana psikologi, maka Si B juga harus sarjana psikologi. Jika Si B yang bukan sarjana psikologi lantas berdebat dengan Si A yang sarjana psikologi, maka hanya akan menimbulkan kekacauan perdebatan yang tak bermakna

Dalam hal berbeda ilmu, maka masing-masing pihak harus menjelaskan dari mana sudut pandangnya. Dari psikologikah, dari agamakah, dari filsafatkah atau dari pandangan pribadi yang sifatnya sangat subjektif?

Langkah terbaik bagi Anda yaitu, mengetahui dengan siapa Anda berbicara dan di dalam kontek ilmu apa dia berbicara. Kalau Anda kurang faham maka lebih bijaksana Anda bertanya daripada Anda berkata tetapi salah.

Cukup banyak orang menderita “Firaunisme”, sebuah kondisi psikologis yang menyebabkan seseorang merasa benar-lebih benar dan paling benar. Sikap ini tak ada salahnya jika diucapkan ahlinya disertai penalaran atau contoh. Dengan demikian orang yang tak faham psikologi bisa memahaminya. Teman saya mengganti istilah “Firaunisme” dengan istilah “Obsession Direct Syndrome”. Maknanya sama saja.

Masihkan Anda merasa benar sendiri? Hanya Anda yang bisa menjawabnya dan hanya orang lain yang bisa menilai Anda. Yang pasti, tiap Anda mengeluarkan pendapat, sebaiknya ada “penalaran” dan “contoh

 

Wonokerto, 25 September 2016

Dari berbagai Sumber

Facebook Comments

comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *