ADZAN JUMAT DUA KALI

DALIL ADZAN JUM’AT DUA KALI

Pertanyaan:

Adakah dalil yang shahih tentang adzan Jum’at dua kali?

Jawaban:

Pada dasarnya mayoritas umat Islam di Nusantara menyelenggarakan jamaah shalat Jum’at dengan mengumdangkan adzan dua kali menjelang khutbah. Tetapi ada juga suatu kelompok yang mencukupkan adzan satu kali, yaitu ketika khatib sudah duduk di atas mimbar. Sementara umat Islam yang mengumandangkan adzan dua kali, biasanya adzan yang pertama dilakukan ketika sudah masuk waktu dzuhur, dan adzan yang kedua ketika khatib sudah duduk di atas mimbar. Permasalahannya sekarang adalah, mengapa bisa terjadi perbedaan tersebut?

Semuanya bersumber dari riwayat dalam kitab-kitab hadits bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar bin Khathab –radhiyallahu ‘anhuma-, adzan menjelang shalat Jum’at hanya dilakukan sekali saja. Tetapi pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, penduduk Kota Madinah semakin banyak, dan tentu saja kota-kota yang lain juga demikian. Nah untuk mengantisipasi keterlambatan umat Islam menghadiri shalat Jum’at, beliau memerintahkan para mua’dzdzin untuk mengumandangkan adzan dua kali. Ijtihad ini beliau lakukan karena melihat masyarakat Muslim sudah mulai banyak dan tempat tinggalnya berjauhan. Sehingga dibutuhkan satu adzan lagi untuk memberi tahu bahwa shalat Jum’at hendak dilaksanakan. Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya sebagai berikut:

عَنِ السَّائِبِ بْنِ يَزِيْدَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النِّدَاءُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ أَوَّلَهُ اِذَا جَلَسَ الاِمَامُ عَلى الْمِنْبَرِ عَلىَ عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا كَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَكَثُرَ النَّاسُ زَادَ النِّدَاءَ الثَّالِثَ عَلى الزَّوْرَاءِ وَهِيَ دَارٌ فِى سُوْقِ الْمَدِيْنَةِ. رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

“Sa’ib bin Yazid berkata: “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar adzan Jum’at pada mulanya dilakukan setelah imam duduk di atas mimbar. Kemudian pada masa Utsman, dan masyarakat semakin banyak, maka menambah adzan ketiga di atas zaura’, yaitu nama rumah di pasar Madinah,” (HR. Bukhari).

Hadits shahih menjelaskan, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Khalifah Abu Bakar dan Umar, adzan Jum’at dikumandangkan setelah khathib duduk di atas mimbar. Akan tetapi, pada masa Khalifah Utsman, ketika masyarakat semakin banyak dan tempat tinggal mereka berjauhan, beliau menambah adzan yang ketiga, yaitu adzan setelah masuknya waktu zhuhur di atas Zaura’, di pasar kota Madinah. Sedangkan adzan selanjutnya adalah adzan ketika khathib sudah duduk di atas mimbar, dan iqamah ketika khathib selesai membaca khutbah dan menjelang shalat Jum’at. Berdasarkan hadits tersebut, para ulama menganjurkan adzan shalat Jum’at dilakukan dua kali. Al-Imam Zainuddin al-Malibari, berkata dalam kitab Fathul Mu’in, sebagai berikut:

وَيُسَنُّ أَذَانَانِ لِصُبْحٍ وَاحِدٌ قَبْلَ الفَجْرِ وَآخَرُ بَعْدَهُ فَإِن اقَتَصَرَ فَالأَوْلَى بَعْدَهُ، وَأَذَانَانِ لِلْجُمْعَةِ أَحَدُهُمَا بَعْدَ صُعُوْدِ الخَطِيْبِ المِنْبَرَ وَ اْلأَخَرُ الَّذِيْ قَبْلَهُ.

“Disunnahkan adzan dua kali untuk shalat Shubuh, yakni sebelum fajar dan setelahnya. Jika hanya mengumandangkan satu kali, maka yang utama dilakukan setelah fajar. Dan sunnah dua adzan untuk shalat Jum’at. Salah satunya setelah khatib naik ke mimbar dan yang lain sebelumnya”. (Fath al-Mu’in: 15)

Meskipun adzan tambahan Khalifah Utsman tersebut tidak pernah dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi para sahabat yang hidup pada masa tersebut tidak ada yang mengingkarinya. Sebagian ulama, dalam membenarkan ijtihad Khalifah Utsman tersebut, menganalogikannya dengan adzan shubuh, yang dilaksanakan dua kali sejak masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari (juz 3 hal. 45).

Di sisi lain, dengan mengikuti adzan dua kali tersebut apakah tidak bertentangan dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang melaksanakan adzan hanya satu kali? Tentu saja tidak bertentangan, karena Khalifah Utsman termasuk Khulafaur Rasyidin, yang diperintahkan diikuti oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَنِ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ. (رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ وَغَيْرُهُمْ. قَالَ التِّرْمِذِيُّ حَسَنٌ صَحِيْحٌ).

“Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang memperoleh petunjuk sesudahku”.

Tentang adzan Jum’at di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, memang benar bahwa di dua masjid termulia di dunia itu adzan Jum’at dikumandangkan dua kali sebagaimana tuntunan Khalifah Utsman bin Affan. Hal ini sama dengan shalat tarawih yang juga dilakukan dengan 20 rakaat sebagaimana tuntunan dari Khalifah Umar ibn Khattab.

Mungkin di sini ada yang bertanya, bagaimana dengan satu kelompok yang mengumandangkan adzan Jum’at satu kali dan membid’ahkan adzan dua kali? Pada dasarnya kelompok yang membid’ahkan adzan Jum’at dua kali, adalah sayap radikal dari aliran Salafi-Wahabi yang mengikuti pandangan Syaikh Nashir al-Albani, dari Yordania. Syaikh al-Albani mengharamkan dan membid’ahkan adzan Jum’at dua kali, dan mencukupkan dengan adzan satu kali. Hanya saja pandangan Syaikh al-Albani tersebut ditentang keras oleh kalangan Salafi-Wahabi sendiri. Misalnya Syaikh Ibnu Utsaimin, ulama Salafi-Wahabi dari Saudi Arabia berkata:

يَأْتِيْ رَجُلٌ فِيْ هَذَا الْعَصْرِ، لَيْسَ عِنْدَهُ مِنَ الْعِلْمِ شَيْءٌ، وَيَقُوْلُ: أَذَانُ الْجُمْعَةِ اْلأَوَّلُ بِدْعَةٌ، لأَنَّهُ لَيْسَ مَعْرُوْفاً عَلىَ عَهْدِ الرَّسُوْلِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَيَجِبُ أَنْ نَقْتَصِرَ عَلىَ اْلأَذَانِ الثَّانِيْ فَقَطْ ! فَنَقُوْلُ لَهُ: إِنَّ سُنَّةَ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ سُنَّةٌ مُتَّبَعَةٌ إِذَا لَمْ تُخَالِفْ سُنَّةَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَمْ يَقُمْ أَحَدٌ مِنَ الصَّحَابَةِ الَّذِيْنَ هُمْ أَعْلَمُ مِنْكَ وَأَغْيَرُ عَلىَ دِيْنِ اللهِ بِمُعَارَضَتِهِ، وَهُوَ مِنَ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ، الَّذِيْنَ أَمَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاتِّبَاعِهِمْ. (اِبْنُ عُثَيْمِيْن، شَرْحُ الْعَقِيْدَةِ الْوَاسِطِيَّةِ).

“Ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jum’at yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: “Sesungguhnya sunahnya Utsman RA adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak ditentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman RA) termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti.” (Syaikh Ibnu Utsaimin, Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hal. 638).

Pernyataan Syaikh Ibnu Utsaimin tersebut, ditegaskan kembali dalam bukunya, Syarh Riyadh al-Shalihin, juz 5 hal. 27, bahwa yang membid’ahkan adzan pertama dalam shalat Jum’at adalah orang Salafi yang sok cerdas. Selanjutnya, pandangan bahwa adzan dua kali dalam shalat Jum’at termasuk sunnah, dan bukan bid’ah, juga ditegaskan oleh Tim Tetap Kajian Ilmiah dan Fatwa Saudi Arabia (Salafi-Wahabi), dalam himpunan fatwa Fatawa al-Lajnah al-Daimah lil-Buhuts al-‘Ilmiyyah wal-Ifta’, juz 8 hal. 198. Wallahu a’lam.

Maturnuwun copas by: KH. Muhammad Idrus Ramli

Facebook Comments

comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *