Kenapa Belajar Biologi

Kenapa Belajar Biologi ?

Lembaga pendidikan di mana saja mengajarkan biologi, fisika, kimia, matematika, sosiologi, psikologi, sejarah, antropologi, fislafat, bahasa, sastra dan seni. Pelajaran itu diberikan di sekolah dari sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Jenis ilmu yang disebutkan itu dinamai ilmu umum. Selain jenis ilmu itu, selama ini, dipahami terdapat ilmu agama.

Sebutan ilmu agama biasanya digunakan untuk menunjuk pada ilmu yang terkait dengan kegiatan ritual, seperti bersuci, shalat, puasa, zakat, haji dan kegiatan muamallah, di antaranya terkait berjual beli, waris, pinjam meminjam, pernikahan, dan lain-lain. Ilmu pengetahuan seperti itu diperoleh dan dikembangkan dari sumber ajaran Islam, yaitu kitab suci al Qur’an dan hadits nabi.

Sesuatu yang agaknya belum terlalu menjadi perhatian secara serius adalah terkait pertanyaan apakah kitab suci al Qur’an dan hadits nabi hanya sebatas membicarakan tentang aqidah, syari’ah, dan ahlaq. Atau, mengikuti sistematika yang lain, Islam dilihat dari aspek ushuluddin, syari’ah, dakwah, adab, dan ilmu tarbiyah. Pertanyaan semacam itu tidak henti-hentinya dijawab oleh para ahli atau ulama’ bahwa Islam sebenarnya amat luas, menyangkut semua aspek kehidupan, dan bukan sebatas ritual sebagaimana yang banyak dipahami orang itu.

Sekalipun demikian itu, di sekolah-sekolah, tatkala berbicara tentang pelajaran agama Islam juga hanya menunjuk pada pelajaran tauhid, fiqh, akhlak, tasawwuf, tarekh, dan Bahasa Arab. Sebutan guru agama Islam adalah tertuju pada orang-orang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang disebutklan itu. Selain itu, seperti guru biologi, fisika, kimia, matematika, sejarah, psikologi, sosiologi, dan seterusnya tidak masuk bagian dari Islam.

Ilmu Agama Islam atau Ilmu-Ilmu tentang Islam
Berbicara tentang agama selalu menyangkut tentang persoalan ketuhanan, ritual, berdoa, tempat ibadah, pengorbanan, dan kepercayaan tentang hari akhir. Petugas agama biasanya menangani persoalan-persoalan di seputar itu semua, apapun agamanya. Agama Islam berbicara tentang masjid, shalat, puasa, haji, doa, dan sejenisnya. Demikian pula pemimpin agama nasrani berbicara dan memberikan layanan tentang kebaktian, memimpin upacara pernikahan, dan kematian. Agama-agama lain juga demikian.

Agama selama ini memang memiliki lapangan atau wilayah kegiatan yang khas, terbatas, yaitu persoalan yang terkait di seputar hubungan antara makhluk atau manusia dengan Tuhan. Tatkala berbicara tentang agama, maka yang tergambar adalah kegiatan ibadah atau penyembahan, pengorbanan, kebaikan antar sesama, konsep tentang keyakinan atau kepercayaan. Pertanyaannya kemudian adalah apakah Islam yang ajarannya bersumber dari kitab suci, yaitu al Qur’an dan hadits nabi juga hanya berbicara tentang ritual dan semacamnya itu.

Sebagai agama, Islam juga berbicara tentang kegiatan ritual, yaitu berbicara tentang masjid, shalat, puasa, zakat, haji, pernikahan, dan waris. Namun sebenarnya agama Islam juga berbicara tentang jual beli, pinjam meminjam, dan bahkan juga tentang cara hidup bersama. Akan tetapi, semua itu hanya dilihat dari perspektif ritual atau peribadatan.

Sementara itu, al Qur’an dan hadits nabi sebagai sumber ajaran Islam, sebenarnya selain memberikan tuntunan yang bersifat ritual, juga memberikan penjelasan tentang berbagai jenis persoalan kehidupan yang lu. Itulah sebabnya berbicara tentang agama Islam agak berbeda tatkala berbicara tentang Islam. Berbicara tentang Islam tidak saja menyangkut aspek ritualnya, melainkan meliputi lingkup semua wilayah kehidupan yang amat luas itu.

Selama ini, di mana-mana, al Qur’an dan hadits nabi, sebagai sumber ajaran Islam baru ditangkap dari perspektif agama. Namun pada akhir-akhir ini, para tokoh atau ilmuwan Islam dari berbagai perguruan tinggi Islam di berbagai negara melontarkan pikiran tentang Islam hendaknya dipahami secara utuh. Itulah kemudian muncul konsep islamisasi ilmu pengetahuan, ilmu tentang Islam, integrasi antara ilmu umum dan ilmu agama, dan seterusnya.

Munculnya pandangan bahwa Islam bukan sebatas agama, sebenarnya juga merujuk pada sejarah perkembangan Islam beberapa abad silam. Dalam khazanah sejarah Islam disebutkan bahwa telah banyak ilmuwan muslim ternama yang diakui oleh dunia ilmu, seperti Ibnu Sina, al Farabi, al Ghazali, dan lain-lain. Sifat universalitas ajaran Islam, sebenarnya tidak saja diakui oleh ulama Islam sendiri, melainkan juga ilmuwan lainnya. Gibb, misalnya, mengatakan bahwa, Islam sebenarnya bukan saja agama, melainkan juga berisi tentang peradaban.

Al Qur’an Memerintahkan Agar Mengkaji Jagad Raya
Sosok pribadi Muhammad sebagai pembawa ajaran Islam, dalam kehidupan sehari-hari, terlebih dahulu memperkenalkan sifat-sifatnya yang mulia. Muhammad dikenal sebagai orang yang jujur, adil, dan terpercaya. Sifat-sifat yang mulia itu tidak saja diakui oleh orang yang dekat dengannya, melainkan juga oleh semua kalangan, termasuk para tokoh Quraisy yang selama itu membencinya. Atas dasar sifatnya yang jujur dan terpercaya itu, hingga Muhammad diberi julukan al Amien, artinya orang yang terpercaya.

Pada fase-fase awal, ayat-ayat al Qur’an yang diturunkan adalah berbicara tentang perintah membaca, tentang penciptaan, tentang ilmu, tentang kebangkitan, tentang perintah saling berwasiat, tentang kebersihan, dan sejenisnya. Al Qur’an memperkenalkan tentang keberadaan Tuhan, manusia, kehidupan dalam perspektif yang luas dan panjang, yakni di dunia dan akherat, kematian, dan lain-lain. Al Qur’an juga memperkenalkan ciri-ciri manusia ideal, di antaranya adalah ulul albab.

Digambarkan bahwa seorang ideal dengan sebutan ulul albab adalah orang-orang yang selalu ingat Allah dalam setiap keadaan, selalu merenungkan atau memiklirkan penciptaan langit dan bumi, dan mengakui bahwa semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang sia-sia. Berdzikir bisa dilakukan dengan membaca nama-nama dan sifat-sifat Allah, menjalankan shalat, berpuasa, dan haji. Sementara itu, terkait merenungkan dan memikirkan penciptaan langit dan bumi, maka dalam khazanah ilmu pengetahuan modern sekarang ini, biasa disebut dengan belajar astronomi, biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah, filfasat, bahasa dan sastra, dan juga seni.

Semua jenis ilmu itu digali dan dikembangkan oleh manusia modern untuk memahami ciptaan Allah. Biologi misalnya, mempelajari tentang kehidupan ini, hingga sedetail-detailnya. Lewat ilmu biologi ini, maka berhasil dipahami ciptaan Allah tentang kehidupan, baik terkait dengan manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan. Berangkat dari ilmu biologi maka berhasil dikembangkan ilmu kesehatan dan kedokteran.

Semua jenis ilmu dimaksud ternyata bermanfaat bagi kehidupan manusia. Itulah al Qur’an menjadikan ciri ideal manusia,——ulul albab, di antaranya adalah orang yang selalu memikirkan penciptaan langit dan bumi. Sedangkan bagian dari apa yang ada di langit dan di bumi, di antaranya adalah tentang kehidupan, yang dalam khazanah ilmu pengetahuan disebut biologi. Oleh karena itu belajar biologi, sebenarnya adalah merupakan implementasi dari perintah al Qur’an yang harus ditunaikan. Demikian pula jenis disiplin ilmu-ilmu yang lain. Wallahu a’lam.
dikutip dari https://www.facebook.com/imam.suprayogo.2

20160919_081122 20160919_080634 20160919_080838

Facebook Comments

comments

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *